Home / Nasional / Pengosongan Lahan Tol Serkun, Pemilik Tanah Minta Akses Jalan

Pengosongan Lahan Tol Serkun, Pemilik Tanah Minta Akses Jalan

TANGSEL-Pemilik lahan yang dilintasi tol Serpong Kunciran di Jalan Bhayangkara Pakujaya Serpong Utara meminta diberikan akses jalan rencana apartemen. Selain itu meminta ada kenaikan harga tanah, (9/7).

Melalui Pengadilan Negeri Tangerang Kelas 1A Khusus  melakukan pengosongan bangunan. Kendati masih dalam upaya mediasi oleh pihak keluarga pemilik lahan sampai ke tingkat Kementerian Pekerjaan Umum dan  Perumahan Rakyat (Kemen PUPR).

Kuasa Hukum  pemilik lahan Purwanto Kitung menyampaikan telah  menyaksikan proses pembongkaran bangunan melalui Pengadilan Negeri Tangerang perlu menjadi perhatian oleh pemerintah dalam melakukan pembangunan jalan tol. Jangan mengesampingkan pemilik lahan yang pada akhirnya merugikan masyarakat.

“Bahwa dalam UU no 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, ada dua aspek yang harus diperhatikan.  Aspek pertama yang digunakan tol dan aspek kedua tanahnya saja atau objeknya saja tetapi sisanya tidak diperhatikan,” katanya.

Hal itu dipertegas bahwa perlu mempertimbangkan lahan yang digunakan jangan sampai ada lahan pada sisi-sisinya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan, apabila nilainya turun makan pemerintah wajib mengembalikan.

“Karena ada Pasal 35 yang menjelaskan bahwa sisinya harus mempunyai nilai semua. Bahkan jika turun harus mengembalikan lagi. Sesuai rencana lahan tersebut akan dibangun apartemenberdasarkan konsep awal. Jika memang ini tidak adil kami akan mengajukan perlawanan. Kami tidak mempersoalkan pembangunan tol tapi perhatikan lahan lainnya supaya tidak mati,” tambah ia.

Ia menegaskan jika pihak PN meminta agar pemilik lahan dapat melakukan pertemuan upaya mediasi dengan pihak panitia pengadaan lahan. Tujuanya supaya ada keadilan jangan sampai ada yang dirugikan

“Bahwa dari pihak PN meminta untuk melakukan pertemuan dengan pihak panitia. Selama ini, segudang janji dan merasakan kami dizolimi. Kami menunggu bagaimana sisa tanah tersebut,” tegasnya.

Pemilik lahan Komang Ani Susana menjelaskan, nasib yang dialami tahun 2017 dirinya kaget ketika BPN memberikan peta 1,8 hektar terlintas jalan tol. Namun  secara keseluruhan luas lahan yang dimiliki 2,8 hektare tanah.  Yang pada akhirnya menjadi tidak jelas nasibnya setelah terpotong tol.

“Hanya 1000 yang dinamakan atas nama saya dan 1,8 hektar atas nama orang lain. Padahal mereka tidak ada sangkut pautnya di mana nama-nama itu diajukan ke tim appraisal. Akhirnya kami mendatangi BPN dan saat itu bertanya, jawab aprresial, tanah ibu Komanag di belakang atas nama orang lain,” tutur iadengan nada kesal.

Dengan alasan bukan atas nama Ibu Komang maka harganya sebesar Rp 2,9 juta. Jika ingin berubah harus dibalik nama dirinya sementara nama sebelumnya atas nama anak kandung karena masih satu keluarga. Disebutkan pasaran tanah di sekitar lokasi, Komang menjelaskan antara Rp 15-20 juta per meter.

“Saya sampai mengeluarkan uang 352 juta untuk membuat akta jual beli. Bagaimana mungkin saya malah mengeluarkan uang yang semestinya saya mendapatkan uang,” sesalnya.

Pembacaan pengosongan lahan oleh jurusita Pengadilan Negeri Tangerang Kelas IA Khusus no:W29.U24/2586/HT.04.05/VII/2019, prihal pengosongan dan penyerahan lahan. (ane).

About admin

Check Also

Usung Tema Persatuan, Polisi di Tangsel Ciptakan Lagu

Aksi kreatif dilakukab lima petugas polisi dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Tangerang Selatan (Tangsel) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *