Home / Lifestyle / Belitung Bersolek, Spot Diving diburu Traveller

Belitung Bersolek, Spot Diving diburu Traveller

Para wisatawan menikmati keindahan alam laut Belitung.

Pulau Belitung dikenal sebagai pusat tambang timah sejak penjajahan Belanda. Setelah tambang timah ditinggalkan kini bumi Laskar Pelangi itu terus bersolek menjamu wisatawan. Pariwisata jadi motor utama penggerak ekonomi Belitung, Provinsi Bangka Belitung.

—–

 

Tangan Jack (25) tampak cekatan memutar kemudi kapal kayu meninggalkan bibir pantai Tanjung Kelayang. Kapal berlayar memecah ombak menuju spot diving di Pulau Lengkuas sekitar satu jam.

Ia cukup dikenal warga pengiat bisnis wisata di tempat itu karena sering melayani jasa sewa kapal untuk diving. Ayahnya dari Amerika Serikat dan ibunya adalah warga Belitung.

“Sejak kecil saya akrab dengan laut. Ada banyak pilihan spot diving yang memikat di Belitung. Banyak turis bule kini tertarik menyelami laut kami,”ucapnya.

Masih banyak lagi warga lokal yang kini beralih profesi jadi penggiat bisnis wisata bahari. Sektor wisata dinilai makin menjanjikan dibanding jadi menambang timah.

Angka kunjungan turis terus meroket setiap tahun. Tercatat pada 2016 lalu jumlahnya mencapai 369 ribu wisatawan. Sedangkan pada 2017 menembus 380 ribu wisatawan.

“Libur pergantian tahun baru 2018 lalu penginapan dan hotel full book,” ucap Adi Febrianto sebagai Kabid Kelembangaan dan Industri Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belitung kepada peserta Journalist Diving de Belitong 2018  (26/4).

Adi menjelaskan 2018 ini ditargetkan kunjungan wisatawan mencapai 400 ribu.

“Untuk wisatawan Korea Selatan 1.300 orang. Ditambah lagi wisatawan dari Rusia, Belanda, Tiongkok,”ucapnya.

Untuk mendongkrak kujungan wisatawan pihaknya mendorong setiap desa membangun destinasi wisata.Dari 67 desa saat ini total ada 17 desa wisata yang bisa dikunjungi.

“Sejak PT Timah berhenti beroperasi 1993 lalu pariwisata jadi andalan penggerak ekonomi,”ungkapnya.

Tak heran kini setiap akhir pekan Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin di Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, dipadati ribuan pengunjung.

Wisatawan bisa langsung menuju pantai diantaranya Pantai Tanjung Pendam di Kelurahan Parit Kecamatan Tanjung Pendam. Pada 1922 hingga 1925 Pantai ini dikenal sebagai kawasan Taman Ratu Juliana dari Belanda.

Selain wisata laut masih banyak destinasi kuliner lainnya. Diantaranya, Kafe Senang yang banyak dikunjungi wisatawan untuk makan dan menikmati kopi.”Dulu petinggi Timah minum kopi di sini,”kata Adi.

Lamanya umur bangunan menyimpan sejarah kebiasaan warga Kota Tanjungpandan puluhan tahun lalu. Konon, kawasan ini sering digunakan untuk bersantai masyarakat sembari menikmati kopi.

Bangunan yang didirikan Belanda ini masih kokoh berdiri. Rata-rata penyewa ruko di kawasan ini sudah berlangsung tiga hingga empat generasi.

Misalnya warung Mak Jannah saat ini dikelola keturunan ke empat dari pertama menyewa. Begitu pun Warkop Ake yang lebih dari satu abad menyajikan kopi.

Menurutnya, warung yang terletak di Jalan Veteran Tanjung Pandang ini sudah berdiri sejak 1911.

Warung tersebut dimiliki warga Tionghoa secara turun temurun. Puluhan tahun lalu ramai dikunjungi oleh Karyawan PT Timah untuk ngopi ataupun makan siang ujarnya.

Memasuki warung Kopi Ake, kita tidak hanya menikmati secangkir kopi dan makanan khas Belitung seperti nasi gemuk, pisang rebus dan mie atep berkuah kari udang. Meja dan kursi kayu tertata klasik menghiasi bangunan ruko itu.

Di depan Cafe Senang, ada sebuah Tugu Perjuangan. Tugu itu untuk menghormati perjuangan lima pahlawan Belitung. Mereka ditembak mati karena menentang kolonialisme, dan jenazahnya dipamerkan di lokasi tugu. “Bangunan itu sebagai simbol, agar warga takut untuk melawah penjajah Belanda,” katanya.

Selanjutnga ada juga wisata ke Rumah Adat Belitung, yakni Rumah Panggung yang bangunannya terbuat dari kayu. Rumah Panggung lokasinya di Jalan Ahmad Yani, persis di samping Kantor Bupati Belitung. Didalamnya terdapat foto Belitung di masa lalu dan replika adat perkawinan Belitung.

Masih ada juga tempat wisata Danau Kolong Murai di Desa Murai kecamatan Tanjung Pandan.

Warga menyebutnya Kolong Murai, karena warna airnya kalau siang kebiru-biruan. Danau itu bekas galian pertambangan Kaolin. Pertambangan masih berjalan hingga saat ini, dan kita manfaatkan karena punya daya tarik wisata.

Selain itu,  di Kabupaten Belitung juga ada Wisata Mangrove di Hutan Kemasyarakatan (HKM) Seberang Bersatu di Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjung Pandan.

Lokasi itu  tengah dikembangkan masyarakat dari lokasi bekas penambangan timah ilegal.

Perjalanan dark pusat Kabupaten Belitung sendiri, bisa melanjutkan perjalanan ke Belitung Timur. Untuk menuju Negeri Laskar Pelangi itu hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan menggunakan bus.

Selain itu bagi penghobi mancing dapat memilih laut Belitung jadi tujuan. Seperti peserta Turnamen Sport Fishing “Mancing de Belitong 2018” pada 28-29 April. Kegiatan yang sudah memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, dilangsungkan di Pantai Teluk Gembira Kecamatan Membalong.

Menurut Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Bangka Belitung, Sahirman Jumli kegiatan ini bisa menjadi sarana mendukung para pehobi mancing.

Tentu saja kegiatan itu diharapkan bisa menarik wisatawan untuk datang ke Belitung. “Wisatawan didorong tidak hanya mengunjungi obyek wisata statis, tapi juga obyek wisata dinamis, seperti memancing,”ungkapnga.(vlo)

About admin

Check Also

Roti Nogat, Taburan Kacang Nikmat di Santap

TANGSEL- Lumeran kacang, cokelat dan masih banyak lagi pilihan rasa lainnya disajikan Roti Nogat, Pasar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *