Home / Bisnis / Plesetan Bahasa Slang, Dagadu Djogya Identitas Kaula Muda

Plesetan Bahasa Slang, Dagadu Djogya Identitas Kaula Muda

Wiwik Sri Suhartini sebagai salah satu Owner Dagadu Djogja membagikan tips cara menjadi entrepreneur agar mampu bersaing dalam berbisnis.

Angkatan Universitas Gajah Madja 1988 ini mengaku memulai usaha Dagadu Djogja saat masih kuliah akhir. Hal itu dilakukanga bersama rekan kuliah berlanjut membuka usaha.

Dengan ilmu arsitek maka wilayah kerjaya soal teknik sipil seperti lingkungan dan kawasan perkotaan.

“Tapi bukan diaplikasikan pada rancang bangun justru membuka usaha baju oblong dimodivikasi dengan tulisan-tulisan dan gambar,” kata Wiwik memotivasi mahasiswa di Kampus Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro, Tangerang Selatan balum lama ini.

Dia hadir sekaligus membuka wawasan ratusan enterpreneur muda di kampus itu. Sekaligus membagi kiat bisnis dalam seminar Business and Entrepreneurship “The Environmental Dynamics”.

“Pemiliknya kami bersama-sama. Jumlahnya banyak ada 23 dengan konsep dan basil ilmu yang sama arsitek. Kami enjoy saja meski banyak pendapat jika ingin mencari partner bisnis cari latar belakang berbeda,” katanya.

Brand ini muncul tanpa rencana sewaktu dulu diminta buka di Mall Malioboro, sebagai satu-satunya mall pertama di Yogyakarta. Kala itu masyarakat bingung Yogya ada mall, sementara jalan Malioboro adalah tempat kaki lima mengelar dagangan.

“Waktu itu kami diberikan tempat oleh pihak mall. Pas besok paginya mau pameran akhirnya di sablon dengan lambang mata. Mata ini makna dari dagadu. Jika diungkapkan memang sedikit kasar tapi dengan mata memberikan kreativitas untuk bisa melihat apa saja,” tukasnya.

Dagadu lahir pada era 1990-an. Ketika itu banyak band-band kenamaan menjadi masa keemasan untuk bisa masuk kepada mereka sehingga banyak yang mengunakan produk Dagadu Djogja.

Pilihan nama Dagadu bermula dari salah seorang di antara mereka yang mengumpat dalam bahasa slang khas Yogyakarta, yaitu kata “dagadu” yang berarti “matamu”.

Nah, umpatan itulah yang memberi inspirasi nama merk dagang produk cenderamata mereka sesaat sebelum mereka berjualan.

Akhirnya, Dagadu resmi menjadi merk produk cenderamata alternatif yang dijual di Malioboro Mall.

Untuk menunjukkan lokalitas dari mana cenderamata itu berasal, ditambahilah kata Djokdja setelah Dagadu. Sementara itu pemakaian ejaan lama pada kata Djokdja dimaksudkan untuk memberi muatan nilai historis kota Yogyakarta.

Nama “Dagadu-Djokdja” sebagai identitas kelompok tersebut baru muncul dan mulai digunakan saat peluncuran perdana produk yang mereka pasarkan di Lower Ground Malioboro Mall Yogyakarta, pada 9 Januari 1994.

Tentu banyak tantangan yang dihadapi sejak awal, karena dalam mengeskplor Yogyakarta ada keterbatasan itu-itu saja yang ada dan dilihat. Namun dengan kreativitas dan inovasi bersama teman-teman jadilan Dagadu Djogya penuh inspirasi.

“Esesnsinya mengangkat otentik menjadi orang lokal dan lokal itu keren. Karena kita orang Jogja, maka kita nikmati apapun yang ada kita kembangkan dengan penuh cinta dan bahagia. Apapun profesinya kuncinya berkaryalah dengan bahagia. Sebab dengan bahagia akan menemukan ide-ide yang cemerlang di luar perkiraan diri kita sendiri,” tambah ia.

Jurus jitu Dagadu Djogja mengapa bisa bertahan hingga saat ini karena muaranya lebih kepada lawakan, lelucon atau plesetan.

Kata-kata yang diluar nalar orang pada umumnya, dari kawan-kawan Dagadu Djogja dibuat dalam bentuk tulisan dan gambar dalam baju. Inilah kekuatan produk Dagadu Djogja.

Banyak produk dan konten-konten karya sesuai dengan momen-momen penting, misalnya Pemilu 2014 Pemilihan Oblong Lucu.

“Ada lagi misalnya Posyandu diplesetkan menjadi Pos Pelayanan Dagadu ada lagi misalnya UDG diplesetkan menjadi Unit Gawat Dagadu. Meski kami besiknya arsitek tapi kami dalam menemukan bahasa-bahasa rumah sakit membuka buku biologi untuk menemukan lawakan lucu,” sabungnya.

Sangat menyadari kontenya lebih lokal, tapi sebetulnya tidak perlu minder atau ragu. Yang penting kemasanya global karena sehebat apapun produk jika tidak memiliki nilai itu tidak akan berkembang lama.

“Isinya tentang Yogyakarta tapi membukanya global. Maka jika membuat riset bukan yang kebanyakan orang tapi harus yang beda. Apapun itu meski sederhana tapi kalau punya nilai bisa lebih hebat,” ungkapnya.

Yang paling penting dalam melakukan satu hal untuk memulai usaha atau yang lain harus melakukan terlebih dahulu. Soal kesempurnaan bisa diperbaiki sambil berjalan. Sebab ada ungkapan siapa yang lebih cepat mereka adalah pemenanngnya. Jadi tidak perlu ragu atau gamang terharap satu hal yang baru digeluti.

“Selain itu tekuni apapun profesimu sesuai dengan kesenangan. Jika sudah senang tidak ada beban, meski lembut anggap saja enteng. Semua itu tentang kecintaan dan kesenangan yang bisa membuat sukses,” ia membagi rahasia.

Ia pun memiliki Djodjatorium mirip gedung kreativitas anak muda. siapaun bisa datang untuk berlatih tentang wirausaha, kerajinan tangan, makanan, dan lain-lain. bermain musik atau diskusi seminar dan konsultasi berbagai isu binsis. Siapa saja boleh datang mahasiswa, masyarakat umum baik dari Yogyakarta itu sendiri atau dari luar daerah termasuk mahasiswa manca negara.

Hadir juga Head of People Air Asia Sandy Ariyadi Eko Wiwanto menyampaikan bahwa sekaran semuanya digital sehingga mau tidak mau harus siap diera digital. harus kompetitif cepat dalam berja dan berekasi. Bisnis pesawat seperti naik pesawat ada tubulensinya terganggu sehingga seorang pilot harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Sementara itu Ketua Program Studi Manajemen UPJ, Hastuti Naibaho menyampaikan ketika menjadwalkan seminar ini berharap mahsiswa dapat mempreoleh komprehensif secara kontekstual baik teori dan praktik dunia usaha. jika anak muda sudah memiliki bekal ini kedepan bisa berkontribusi lebih besar dalam dunia usaha.

“Harapan mahasiswa dapat pengetauan komprehensif melihat sudut pandang praktisi dari Air Asia yang survive dengan binsis airline low cost. Dari segi kewirausahaan punya mata kuliah sehingga jika mereka mau buka usaha sudah mengerti,” katanya.(LN1)

About admin

Check Also

7 Fotografer Meriahkan Lomba Foto Summarecon Serpong

Summarecon Serpong menghadirkan Pameran Fotografi 7Perempuan 7Rupa “Ekspresi Kebahagiaan di Usia 50+” oleh Fotografer Perempuan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *