Home / Nasional / Retribusi Terancam Lolos Jika Terminal Pondok Cabe Dikelola Kemenhub
Pengerjaan proyek Terminal Tipe A Pondok Cabe sebentar lagi selesai. Terminal ini dibangun sejak 2015 menggunakan dana hibah DKI Jakarta sebesar Rp 60 miliyar, tiga lantai dengan lima shelter.

Retribusi Terancam Lolos Jika Terminal Pondok Cabe Dikelola Kemenhub

 

TANGSEL-Rencana Pemkot Tangsel akan menyerahkan Terminal Pondok Cabe penganti Terminal Lebak Bulus ke Kementerian Perhubungan mendapatkan sorotan dari pengamat. Langkah ini sebaiknya perlu dipertimbangkan berkaitan dengan retribusi pada khas daerah.

Pengamat Tata Kota, Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna memberikan analisa, bahwa persoalan penyerahan kewenangan pengelolaan Terminal Pondok Cabe kepada Kementerian Perhubungan tergantung daerahnya. Apakah sepakat atau tidak, karena ini berbicara dengan retribusi pemasukan daerah.

“Tinggal ikhlas dan ridho saja pemerintah daerah menyerahkan kepada pemerintah pusat. Karena jika sudah diserahkan, semua pendapatan masuknya ke pmeirntah pusat. Ini yang biasanya menjadi persoalan sementara DKI tidak pernah mau melakukan itu,” kata Yayat.

Kedudukan aset terminal adalah milik Pemkot Tangsel. Apabila diserahkan maka, akan berpindah tangan pengelolaan ke pusat. Ini dipertimbangkan dengan matang, apakah rela pendapatan yang masuk banyak Pemkot Tangsel tidak dapat.

“Kaitanya dengan aset, harus ada hitung-hitungan berapa kira-kira pemasukan di terminal setelah beroperasi,” sambung ia.

Kendati dikelola kementerian, sudah pasti dapat berjalan dengan baik. Mereka akan menyiapkan sumber daya manusianya, pembiayaanya dan lain-lain. Terminal Tipe A memang harus Kementerian Perhubungan sebagai pengelola.

“Mereka pasti menyiapkan semua komponen untuk mengoperasikan terminal, dari berbagai macam aspek SDM dan pendukung lainnya,” tuturnya.

Ia pun menyoroti, keberadaan angkutan kota yang ada di Tangsel, supaya ditarik saja masuk ke terminal. Meminta Dinas Perhubungan Kota Tangsel berkomunikasi dengan pihak Organisasi Angkutan Darat (Organda) agar semua angkutan kota masuk ke terminal.

“Ini perlu koordinasi antara Organda dan Dihsub Tangsel bagaimana angkot bisa menjadi freeder bagi bus-bus antara kota yang masuk di sana,” tukas Yayat.

Saat ada upaya mendorong angkutan umum masuk ke terminal, tentu ada konsekuesni yang dialami oleh para sopir. Terutama terkait pendapatan, apakah setelah masuk keterminal mereka memperoleh pendapatan lebih menguntungkan atau tidak. Atau justru sebaliknya mereka malah merugi dengan trayek menjadi jauh jumlah penumpang menjadi menurun, ini harus jadi pertimbangan dan analisa tersendiri.

“Yang jadi masalah apakah angkot kena retribusi atau tidak. Dan apakah angkot bakal ngetem karena belum tahu berapa jumlah pendapatan dari terminal tersebut dan menguntungkan bagi angkutan umum?,” analisa Yayat.

Ketua Organda Kota Tangsel, Yusron Siregar menyerahkan sepenuhnya kepada Dishub pasalnya merasa dicuekin tidak pernah diajak komunikasi selama ini. Ia pun pasarah apapun yang terjadi setelah terminal jadi.

“Memang Organda dari awal tidak pernah dilibatkan di sana. Dan malah mereka membuat paguyuban, bahkan kabarnya Dishub turut hadir pembentukan paguyuban terminal Pondok Cabe. Kita pasrah saja dan kita percayakan saja,” katanya.

Langkah yang dilakukan oleh Dishub agar terminal ramai, dengan mewacanakan penutupan PO bus-bus yang ada seperti di Ciputat, Pamulang dan Setu tujuanya mereka masuk ke Terminal. Namun gagal setelah ditentang Organda bahwa wacana itu keliru.

“Dishub pernah merencanakan untuk menyetop PO yang ada di beberapa tempat tapi saya tolak. Mereka meminta supaya masing-masing PO masuk ke dalam terminal, sementara lahannya belum disiapkan terlebih dahulu,” tambah ia.

Kendati bangunan sudah hampir selesai, bagi Yusron itu baru 30 persen dari desain awal yang pernah ia terima dari Dishub saat sering rapat beberapa tahun yang lalu. Desain awal ada kawasan perbelanjaan, akses masuk juga disiapkan dengan pelebaran jalan.

“Itu belum jadi. Kalau saya sebut tak ubahnya terminal bayangan saja. Kalau kami tidak dihubungi jadi penonton saja, biar mereka hadapi sendiri untuk nantinya,” pasarah ia.

Ia tidak bisa menjamin apakah nanti bakal ramai atau tidak, pasalnya sarana dan prasaran belum sepenuhnya terpenuhi. Perlu ada pendukung akses masuk yang awalnya dari Jalan Kemiri, sebarang Pintu Universitas Terbuka dan keluarnya melalui jalan M Toha sampai Dewi Sartika.

“Terburuknya sepi tidak ada artinya. Sarana dan prasaran penyumbang atau pendukung belum siap. Jalanya bagaimana, pelebaran bagaimana. Flyover Gaplek yang sudah direncanakan bagaimana. Harus saling terkait. Bayangkan saja kalau semua bus lewat Ciputat setiap hari seperti apa macetnya,” kritik ia. (AN).

 

 

 

 

 

About admin

Check Also

Hotel Harris Summarecon Serpong Dibangun 480 Kamar

PT Summarecon Agung Tbk (Summarecon) melaksanakan Ground Breaking pembangunan Harris Hotel Serpong oleh jajaran direksi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *