Home / Pendidikan / Gross Split Tingkatkan Daya Saing Industri Migas Indonesia

Gross Split Tingkatkan Daya Saing Industri Migas Indonesia

TANJUNG PANDAN, Research Centre for Politics and Government (PoLGoV), Departemen Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM bekerja sama dengan Natural Resource Governance Institute (NRGI) mengadakan sebuah pelatihan bertajuk “Advancing Accoutable Resource Governance in Asia Pasific 2018”. Pelatihan yang memasuki tahun kelima ini diikuti 28 peserta yang berasal dari Indonesia, Myanmar, Thailand, Filipina, Vietnam, Amerika Serikat, dan Inggris. Para peserta pelatihan terdiri atas perwakilan pemerintah, aktivis LSM, dan akademisi. Pelatihan yang diselenggarakan pada Selasa (9/11) di Tanjung Pandan ini dihadiri Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arcandra Tahar.

Arcandra yang membuka pelatihan tersebut menyampaikan bahwa kebijakan gross split diyakini akan meningkatkan daya saing industri migas Indonesia. Menurutnya, kebijakan itu memudahkan investor untuk menghitung keekonomian proyek migas dengan memperhitungkan risiko dan pendapatan produksi migas secara lebih transparan. Ia menambahkan penerapan kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kepastian, kemudahan, serta efisiensi untuk mendorong daya saing industri migas di Indonesia.

Di hadapan peserta pelatihan, Archandra menegaskan bahwa penerapan gross split akan mengurangi beban anggaran negara karena biaya produksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor. Sebelumnya, produksi migas menggunakan skema cost recovery sehingga negara harus mengganti biaya operasional yang dikeluarkan oleh kontraktor.  Selama ini sistem cost recovery terus memancing perdebatan. Hal itu dikarenakan basis penghitungan risiko dalam produksi migas berbeda-beda, bergantung pada kondisi lapangan.

“Menghitung faktor risiko inilah yang menjadi perdebatan dalam penghitungan biaya operasi migas,” kata Arcandra.

Skema gross split diyakini dapat membuat penghitungan hasil kontrak pengelolaan wilayah kerja migas secara lebih pasti dan transparan. Selain biaya operasi, sistem ini juga memudahkan pemerintah melalui SKK Migas menghitung insentif bagi operator berdasarkan tingkat kesulitan lokasi yang dihadapi dan teknologi yang dipakai. Sistem ini juga sejalan dengan upaya pencegahan korupsi yang dilakukan pemerintah di sektor migas dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Arcandra meyakini dengan mekanisme ini industri migas Indonesia akan menjadi lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, gross split akan meningkatkan pengembalian investasi dan meningkat dari 17 persen menjadi 26 persen.

Wakil Dekan Fisipol UGM, Dr. Poppy Winanti, dalam pidato pembukaan menerangkan bahwa Pulau Belitung dipilih sebagai lokasi pelatihan karena sejarahnya yang panjang dalam tambang timah. “Munculnya inisiatif dari masyarakat untuk mengembangkan sektor industri non-ekstraktif juga menarik untuk menjadi bahan pembelajaran,” ujar Poppy. (Humas UGM/MD)

About admin

Check Also

PT IKPP Salurkan Hewan Kurban Pada Pokja Wartawan Tangsel

  TANGSEL-PT Indah Kiat Pulp and Paper Tangerang Mill serahkan hewan kurban kepada Kelompok Kerja …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *