Home / Pemerintahan / Di Kota Tangsel, Amil Sudah Banyak yang Sepuh
Praktik mengkafani jenazah bagi para amil

Di Kota Tangsel, Amil Sudah Banyak yang Sepuh

TANGSEL-Pemulasaran jenazah dilakukan oleh amil perlu ada regenerasi untuk penganti amil yang telah sepuh. Untuk itu maka perlu diberikan pelatihan secara mendalam supaya para amil saat menangani jenazah bisa lebih memahami betul secara syar’i.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tangsel, Heli Slamet menegaskan gelar pelatihan pemulasaran jenazah dalam acara Sinergi Dakwah Lauching dan Pelatihan Pemulasaran Jenazah bertempat di Fakultas Dirasah Islamiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta, pagi hingga siang. Pelatiha ini kali pertamnya dan akan digelar setiap dua bulan. Mengingat penting bagaimana cara pemulasaran jenzah maka agar secara rutin tetap dilakukan.

“Kami mengelar acara ini yang pertama dan kedepan direncanakan setiap dua bulan sekali. Cara pemulasaran jenazah harus dipamai betul oleh para amil meliputi tata cara memandikan hingga menshalati jenazah. Peserta juga ditunjukkan simulasi mengkafani jenazah secara menyeluruh,” tuturnya, Sabtu (13/1).

Regenerasi amil harus dilakukan hal ini sejalan dengan jumlah amil di Tangsel tergolong tidak banyak. Semetara peran amil di tengah masyarakat sangat dibutuhkan manakala ada warga meninggal dunia. Pertama kali digelar setidaknya peserta cukup banyak mencapai 100 orang ini pun dibatasi.

“Pesertanya membludag perwakilan dari DKM, para amil dan para guru ngaji. Kami batasi karena rupanya cukup banyak yang mendaftarkan diri, baik laki-laki dan perempuan ibu-ibu majelis taklim,” tambah ia.

Pelatihan ini untuk memberikan ilmu yang pastinya, jangan sampai, tidak mengikuti syiariat, misalnya saja mereka membicarakan hal buruk bagi jenazah. Ditekankan seorang amil wajib menanamkan adab, tidak boleh berbicara sembarangan, khususnya bagi calon amil demikian yang sudah menjadi amil minimalnya dalam satu RW ada 2 orang amil.

“Sasarannya tak hanya kepada para amil tapi juga kepada para calon amil. Sebab dalam mengurus jenazah harus mengedepankan etika, tidak boleh membicarakan hal-hal buruk jenazah, harus dijaga adab bicaranya,” sambung Heli.

Sekretaris Panitia, Nahadi Saputra, mengaku senang karena pesertanya selain orangtua juga anak-anak muda perwakilan dari DKM dan mereka sungguh-sungguh ingin mengetahui tatacara pemulasaran jenazah. Ini menjadi harapan besar dalam mencetak para amil di setiap wilayah RW se Tangsel.

“Bersyukur dalam kegiatan ada anak-anak muda dari beberapa masjid hadir, di samping itu para ibu-ibu majelis taklim dan para guru Taman Pendidikan Al Quran” tutur Nahadi.

Berbicara musibah kematian, jangankan oranglain mau mengurus, keluarga sendiri saja terkadang tidak mau, karena takut. Maka tak jarang kerap ditemui di tengah masyarakat, ada orang yang awalnya hanya melihat amil mengurus jenazah kemudian orang itu berani melakukan biasanya selanjutnya diminta untuk menangai.

“Jangan sampai seperti itu karena, memang tidak ada lagi amil sementara orang tersebut berani dan mau mengurus maka masyarakat biasanya mempercayakan. Maka supaya tidak melenceng dari hukum Islam, pelatihan ini menjadi penting supaya pemulasaran jenazah menjadi syari’i,” tambah ia.

Kegiatan ini dapat berjalan berkat kerjasama dengan DMI, Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Permata Bank Syariah dan Cinta Amal. (AN).

About admin

Check Also

Hotel Harris Summarecon Serpong Dibangun 480 Kamar

PT Summarecon Agung Tbk (Summarecon) melaksanakan Ground Breaking pembangunan Harris Hotel Serpong oleh jajaran direksi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *